banner 728x90

Miris Sekali..!,Rahel Lumpuh Sejak Umur 2 Tahun, Hanya Dapat Bantuan 6 Kotak Susu di Era Bupati Adi Gunawan, Setelah Itu Tak Pernah Lagi Dapat Bantuan Dari Pemkab Dharmasraya

12 views

print

Dharmasraya, Media Cerdas,__Sambil duduk memangku Rahel Wahyu Satria (11 tahun)
yaitu anaknya yang lumpuh tersebut, sesekali  Rohmawati ( 39 tahun)  menyeka air matanya  yang mengalir dipipi.

Disini  ia mulai menceritakan bagaimana awalnya   anak  bungsunya tersebut menjadi lumpuh.

Sambil  memeluk anaknya tersebut dengan erat, kembali  isteri  Wahyudi ( 39 tahun )  ini, menyeka air mata yang mengalir dipipinya.

Ia teringat  saat Rahel Wahyu Satria baru berusia dua tahun  yang lalu.

Rahel adalah panggilan kesayangan buat anaknya ini.

Ia masih ingat ketika malam itu, Rahel badannya  mengalami panas tinggi, Wahyudi dan isterinya Rohmawati sempat panik, kemudian dibantu keluarga dan tetangga  anaknya  Rahel inipun langsung dibawa ke Puskesmas Koto Baru.

Butuh  waktu  20 menit menuju  Puskesmas Koto Baru tersebut, karena
tinggalnya  Wahyudi adalah di daerah  Jorong Padang Bintungan, Blok D, Nagari
Sialang Gaung, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera
Barat.

Semenjak itu, pertumbuhan badan Rahel pun tidak seperti
anak-anak yang sebaya dengannya, dokter mengklaim  Rahel 
menderita penyakit 
“Meningitis”  yaitu  peradangan yang terjadi
pada meningen, yaitu lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang
belakang.

Meningitis
terkadang sulit dikenali, karena penyakit ini memiliki gejala awal yang serupa
dengan flu, seperti demam dan sakit kepala.

Tangisan Rohmawati  pagi ini Senen (16/11/2020) adalah tangisan
karena sedih melihat kondisi anak bungsunya yang kian hari kian memburuk,  tak kunjung sembuh.

Disuasana Pandemi Covid-19  saat ini, bekerja sebagai buruh
serabutan  sangat terasa  sekali 
bagi Wahyudi, dalam mengobati dan merawat Rahel,  walaupun telah dibantu isterinya
Rohmawati  dalam mencari  uang dengan menjual sayur-sayuran hasil
tanaman  di kebun pekarangan rumahnya.

Dirumah ukuran 6X7 tersebut, mereka tinggal bertiga,  sedangkan kakaknya  Rahel  yaitu  Relva  (17 tahun )  mondok  di Jawa.

Anak pasangan sebaya ini, hanya berdua saja.

Sungguh sebuah perjuangan hidup yang
sangat  berat bagi Wahyudi dan isterinya,
karena setiap hari ia harus mengeluarkan biaya untuk berobat anaknya dan juga
kebutuhan hidupnya sehari-hari, sementara itu ia tidak pernah mendapat bantuan
dari pemerintah daerah Dharmasraya dalam membantu mengobati anaknya yang lumpuh
tersebut.

“Apalagi dimasa kepemimpinan Bupati Tuanku Riska, kita tidak pernah dapat bantuan sedikitpun untuk  pengobatan  Rahel, tetapi  dulu diwaktu Bupatinya Adi Gunawan, kita pernah dibantu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Dharmasraya yaitu berupa susu  enam kotak, hanya itu, artinya setelah itu sudah bertahun-tahun kita tidak dapat bantuan sama sekali dari pemerintah daerah Dharmasraya ini,” ucap, Rohmawati, dengan harapan Pemkab Dharmasraya bisa memperhatikan dan membatunya pada saat kondisinya yang sulit kali ini.

Apa mau dikata, perjuangan hidup ini tetap dijalankan, walaupun kondisi tubuh Rahel, seperti tangan dan kakinya mengecil tinggal tulang saja, ditambah lagi Rahel tidak bisa berbicara.

Tetapi walaupun demikian pasangan
sebaya ini tetap bersemangat dalam mencari uang, untuk kebutuhan berobat Rahel.

“Tak henti-hentinya kami berdoa kepada Allah untuk kesembuhan anak kami ini, tetapi walaupun kondisinya seperti ini, tetap  Rahel lah yang membuat kami bersemangat,” ucap, Rohmawati kepada media ini, sambil tersedu.

Sudah berbagai Rumah Sakit di Kota Padang tempat Rahel berobat, namun belum nampak kemajuan untuk kepulihan Rahel.

Saat ini keseharian Rahel hanya bisa tergolek lemah di atas tempat tidur, dengan dipasangi “Pampers” yang setiap sekali 3 jam harus diganti.

Kadang-kadang Rahel juga digendong oleh Rohmawati ibunya.

Rahel tidak bisa makan nasi, setiap kali ia makan nasi setiap kali pula ia mutahkan.

Yang Rahel kosumsi hanya susu setiap hari.

Wahyudi dan Rohmawati sangat berharap sekali, uluran tangan pemerintah ataupun para dermawan saat ini, dalam hal bukan mereka tidak berusaha.

Malahan setiap hari keluarga ini berusaha mencari uang untuk biaya Rahel, “Apapun kita lakukan, yang penting halal, dan bisa untuk biaya berobat Rahel,” ujar Wahyudi.

“Yang jelas kita harus mengeluarkan uang sebesar Rp.63 ribu setiap harinya,” ujar Wahyudi lagi. (yy)

banner 200x200

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan